Amnesti Pajak dan Sektor Properti

Image result for amnesti pajak

Dinamika sektor properti tidak dapat dilepaskan dari kondisi perekonomian yang sedang terjadi. Ketika krisis keuangan di Amerika Serikat (2008) dan krisis utang di Eropa (2010) terjadi, sektor properti di Indonesia mengalami tekanan. Namun, memasuki tahun 2011 kembali pulih dan tumbuh dengan cepat sampai tahun 2013.

Memasuki tahun 2014 tekanan kembali terjadi. Sampai saat ini belum pulih dengan sempurna. Penjualan dan laba bersih sejumlah perusahaan properti baik skala kecil dan besar, dikabarkan turun. Dan, ini juga terjadi pada emiten di bursa saham.

Meski begitu, jika dibandingkan dengan sektor properti di luar negeri, sektor properti di Indonesia lebih beruntung. Ketika krisis terjadi, harga properti di luar negeri biasanya akan ikut turun. Sementara di Indonesia, harga properti cukup jarang turun, meski di tengah kondisi ekonomi yang melambat seperti saat ini.

Dinamika yang dialami sektor properti dalam 8 tahun terakhir tidak dilepaskan dari perubahan perekonomian dunia dan domestik. Krisis demi krisis yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah lanskap ekonomi dunia. Krisis ini juga ikut melahirkan ketidakpastian tidak terduga (unexpected risk). Revolusi di kawasan Arab (Arab Spring) (2010), devaluasi Yuan (2015), kebijakan suku bunga negatif di negara maju (2015-2016), keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) (2016), dan aksi teror di berbagai kawasan jadi beberapa contoh risiko tidak terduga tersebut.

Hampir tidak ada negara yang ‘imun’ dengan krisis dan ketidakpastian ini. Negara maju yang selama ini menjadi sumber krisis telah banyak melakukan berbagai kebijakan untuk mengatasi krisis dan ketidapastian ini. Namun, sampai saat ini belum bisa membalikkan keadaan.

Itulah sebabnya, International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia (World Bank) cenderung menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi dunia. Bahkan, sampai tahun 2017 tren ini masih akan terus terjadi. Cukup sulit menemukan sumber pertumbuhan baru. Ini membuat prospek harga minyak dan komoditas dunia masih akan sulit bangkit.

Situasi ekonomi global ikut menekan perekonomian Indonesia. Kinerja ekspor dan investasi melambat. Celakanya, kinerja konsumsi (daya beli) juga melambat. Itulah sebabnya, sejak 2010, tren pertumbuhan ekonomi terus melambat. Bahkan, tahun 2015 menyentuh level terendah di 4,79%.

Meski begitu, diperkirakan tren pelambatan pertumbuhan ekonomi domestik ini tidak akan berlanjut. Semester I-2016 tren perbaikan mulai terlihat. Pertumbuhan ekonomi membaik dan didukung oleh terjaganya stabilitas makroekonomi dan sektor keuangan.

Kebijakan antisipatif

Perbaikan ini tidak dapat dilepaskan dari kebijakan antisipatif pemerintah dan otoritas sepanjang tahun lalu. Pemerintah terus mendorong implementasi paket ekonomi untuk mendorong daya belu dan menarik investasi.

Bukan hanya itu, Bank Indonesia terus melakukan relaksasi kebijakan, baik melalui penurunan suku bunga dan makroprudensial melalui penurunan loan to value (LTV) dan loan to financing (LTF) di sektor properti dan otomotif.

OJK juga merelaksasi berbagai regulasi, sehingga membuat akses pendanaan dari sektor perbankan dan pasar modal semakin mudah, khususnya untuk sektor UMKM.

Pemerintah juga melakukan terobosan dengan mengeluarkan UU No 11/2016 tentang Pengampunan Pajak (tax amnesty). Kebijakan ini selain menambah pendapatan pada APBN dan memperbesar basis pajak, kebijakan ini juga akan meningkatkan aliran likuiditas yang nilainya mencapai Rp 560 triliun-Rp 1.000 triliun. Sejumlah instrumen keuangan disiapkan untuk menampung aliran likuiditas ini, seperti DIRE, EBA, KPD, dan RDPT. Melalui instrumen ini, aliran likuiditas ini akan masuk ke properti.

Pasca diimplementasikan kebijakan pengampunan pajak, harga saham sektor properti telah menggeliat. Kenaikan harga saham ini juga didukung membaiknya kinerja keuangan di semester I-2016.

Dengan momentum perbaikan ekonomi domestik ini dan didukung oleh aliran likuiditas dari kebijakan amnesti pajak, prospek sektor properti akan lebih cerah tahun ini, sehingga memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Perkembangan sektor properti akan memberikan banyak imbas terhadap sektor lainnya, terutama akan menciptakan lapangan kerja, sehingga dapat menurunkan jumlah pengangguran.

Sumber : Harian Kontan 29 Agustus 2016

Penulis : Desmon Silitonga

http://www.pengampunanpajak.com

info@pengampunanpajak.com



Kategori:Pengampunan Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: