Menguak Mitos Amnesti Pajak

Penerimaan setoran pajak yang rendah dan tax to PDB ratio yang cenderung turun dari tahun 2012 membuat pemerintah mengambil langkah amnesty pajak (tax amnesty). Pemerintah beralasan, banyak wajib Pajak yang melarikan diri dari tanggung jawabnya, khususnya sejak tahun 2009. Tax to PDB ratio turun dari 13,31% menjadi 11,06%. Oleh karena itu, tahun 2015, pemerintah mecanangkan tahun tersebut sebagai tahun pembinaan Wajib Pajak agar penerimaan pajak dan tax ratio meningkat.

Tapi fakta yang terjadi malah semakin memprihatinkan. Tahun 2015, telah terjasi Shortfall pajak sebesar Rp 239 triliun dan tax ratio 10,75% turun dibandingkan 2014 yang sebesar 11,36%. Oleh karena itu, pemerintah memberlakukan amnesty pajak tahun 2016 dengan alasan: pertama, capital inflow akan membanjiri Indonesia sehingga meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kedua, pertumbuhan ekonomi diharapkan dapat menambah Setoran Penerimaan Pajak.

Mari kita membahas alasan yang pertama, yaitu capital inflow yang diperkirakan mencapai ribuan triliun rupiah hasil dari repatriasi aset akibat dari amnesty pajak sehingga memacu pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Alasan seperti itu tidak dapat dibenarkan karena tidak dapat dibenarkan karna tidak rasional.

Pertama, karena pertumbuhan ekonomi tidak tergantung dari capital inflow. Ada sebuah prinsip ilmu ekonomi yang mengatakan bahwa capital akan mengalir dengan sendirnya apabila ada kesempatan investasi.

Apabila ditinjau lebih baik, tahun 2004, PDB Indonesia Rp 2.295 triliun dan pada 2013 menjadi Rp 9.083 triliun atau meningkat hampir empat kali lipat. Namun sepanjang tahun tersebut perekonomian nasional tidak pernah kekurangan dana untuk membiayai proyek-proyek investasi.

Terbukti, dari tahun 2004 sampai 2013, capital flow hanya naik-turun menyentuh angka 1,5%-3,5% dari GDP. Bahkan ketika capital flow turun dari 2% menjadi hanya 1% dari GDP pada krisis financial global tahun 2008, PDB tetap tumbuh di angka 4%. Artinya memang pertumbuhan ekonomi tidak tergantung capital flow.

Di samping itu, LDR Perbankan Nasional masih tergolong rendah yaitu, sekitar 85%-88%. Ini indikasi jelas bahwa perekonomian nasional belum membutuhkan dana tambahandan dana dalam perbankan Indonesia masih berlimpah. LDR Indonesia masih belum melampaui Thailand dan Singapura. Terlebih lagi pada tahun 2015, pertumbuhan kredit perbankan di Indonesia hanya menyentuh angka 10% atau tidak mencapai target yang diharapkan sekitar 16%-18%. Hal ini terjadi bukan karena perekonomian nasional kekurangan capital, tapi karena investment opportunity yang rendah. Sebab, ekonomi Indonesia secara makro telah mengalami oversupply dengan turunya konsumsi rumah tangga dari 5,01% (kuartal III-2015) menjadi 4,94% pada kuartal II-2016.

Konsumsi masyarakat turun

Kedua, dari sisi moneter, capital inflow secara besar-besaran akan mengakibatkan nilai tukar rupiah menguat terhadap mata uang lain. Hal ini selanjutnya akan menyebabkan harga komoditi ekspor menjadi mahal sehingga tidak mampu bersaing dan menyebabkan permintaan pasar global akan komoditi tersebut anjlok serta komoditi impor akan semakin murah. Ini akan menyebabkan deficit neraca dan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi menurun.

Ketiga, capital inflow yang mengalir dengan deras akan mengakibatkan inflasi meningkat. Kenaikan inflasi tersebut akan mengakibatkan kemampuan belanja masyarakat turun sehingga konsumsi nasional akan turun yang akan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi turun. Terbukti, penurunan konsumsi rumah tangga dari 5,01% (kuartal III-2015)menjadi 4,94% (kuartal I-2016)menyebabkan penurunan GDP dari 5,04% (kuartal III-2015) menjadi 4,92% (kuartal I-2016). Hal ini semakin diperparah dengan kenyataan bahwa konsumsi rumah tangga mengambil porsi 58% dari total GDP.

Alasan kedua bahwa pertumbuhan ekonomi akan mengakibatkan penerimaan setoran pajak meningkat juga kurang tepat. Pertama, pemerintah berteori bahwa pertumbuhan ekonomi dapat meningkatkan penerimaan pajak. Jadi, pemerintah berasumsi dengan pertumbuhan ekonomi yang menjadi penyebab tax ratio turun adalah karena sebagian para Wajib Pajak tidak membayar kewajibannya. Padahal, tidak ada korelasi yang benar-benar positif antara tax ratio dengan pertumbuhan ekonomi.

Dalam keadaan normal mungkin benar pertumbuhan ekonomi akan meningkatka tax ratio. Namun, tidak selalu demikian. Contohnya pada tahun 2009, terjadi pertumbuhan ekonomi riil sebesar 13,29% dan pertumbuhan ekonomi riil sebesar 4,5%. Tapi tax ratio malah menurun dari 13,31% (2008) menjadi 11,06% (2009). Ini terjadi karena pertumbuhan ekonomi rill dihitung berdasarkan kuantitas, sedangkan penerimaan pajak dihitung berdasarkan satuan moneter (harga). Ketika satuan hitung berbeda, perubahan harga dalam komoditas pun mengakibatkan tax ratio menurun, namun pertumbuhan ekonomi meningkat.

Kedua, kecenderungan pertumbuhan ekonomi yang semakin melemah secaranasional dan global membuat alasan pemerintah memberlakukan amnesty pajak untuk meningkatkan tax ratio menjadi alasan yang kontroversi. Pelemahan ekonomi nasional telah terjadi sejak tahun 2012. Pertumbuhan PDB merosot terus dari 6,5% (2012) menjadi 4,92% (kuartal I-2016). Hal ini disebabkan oleh beberapa factor, seperti deficit neraca, penurunan konsumsi rumah tangga akibat inflasi.

World Bank pun memotong prediksi pertumbuhan GDP Indonesia dari 5,3% menjadi 5,1% dengan alasan bahwa pelemahan ekonomi global belum memperlihatkan tanda perbaikan, masih stagnan di angka 2%, penurunan harga komoditas ekspor, dan government spending akibat turunnya tax ratio pada 2015. Disamping itu, demand China sebagai negara sasaran ekspor terbesar Indonesia turun lantaran konsumsi rumah tangga merosot trus dari 60% terhadap GDP (1975) menjadi 35% (2013) terhadap GDP, serta mengalami overinvestment.

Kesimpulannya, kedua alasan pemerintah untuk memberlakukan amnesty pajak masih kontroversi.

Penulis : Muhd. Redha Vahlevi. (Bekerja di Bank Mandiri)

Sumber : KONTAN Jumat, 12 Agustus 2016

http://www.pengampunanpajak.com

info@pengampunanpajak.com



Kategori:Pengampunan Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: