Tax Amnesty, Singapura & Komitmen ASEAN

Hasil gambar untuk tax amnesty singapura

Masyarakat Indonesia dalam beberapa hari ini gemas campur geregetan! Gara-garanya : terkuak simpanan uang orang kaya Indonesia di perbankan Singapura yang jumlahnya amat fantastis. Seperti ditulis situs majalah Fortune (25/7), jumlah simpanan uang tersebut mencapai US$ 200 miliar atau setara dengan Rp 2.600 triliun. Padahal jumlah simpanan nasabah di seluruh perbankan Indonesia hanya sekitar Rp 3.500 triliun. Ini artinya, jumlah simpanan uang WNI di Singapura hampir 75% dari jumlah uang seluruh nasabah perbankan di Indonesia.

Kenyataan tersebut lebih menyakitkan lagi bila dilihat dari sudut pandang populasi atau jumlah penduduk antara Indonesia dan Singapura. Dengan jumlah penduduk 255,5 juta jiwa dan simpanan seluruh nasabah perbankan Indonesia yang mencapai Rp 3.500 triliun, bila (seandainya setiap orang Indonesia punya rekening bank dan dibagi rata), maka setiap orang Indonesia hanya punya simpanan Rp 13.698.630.

Di pihak lain, dengan jumlah penduduk 5,5 juta jiwa, tiap rakyat Singapura “memiliki simpanan uang kepunyaan WNI” di perbankan Singapura sebesar Rp 472.727.272, atau hampir setengah miliar rupiah. Jadi dari aspek finansial perbankan (seandainya dibagi rata), kekayaan penduduk Singapura 35 kali dibanding kekayaan penduduk Indonesia. Celakanya, semua kekayaan tersebut sebenarnya de facto milik penduduk Indonesia.

Ini jelas sangat ironis. Ketika bangsa Indonesia tengah bergulat melawan kemiskinan dan keuangan negara terus menerus tergerus pembayaran utang luar negeri, uang anak bangsa Indonesia justru tersimpan dan dimanfaatkan oleh Singapura. Jumlahnya pun tidak main-main : 40% dari total aset bank swasta Singapura. Ini jelas tidak bisa dibiarkan. Mencari uangnya di Indonesia hasilnya malah disimpan di negeri orang. Padahal negerinya sendiri masih membutuhkan modal untuk membangun perekonomian nasional.

Salah satu cara Presiden Jokowi untuk ikut “memanfaatkan” uang simpanan WNI di Singapura itu adalah, yang pertama, memberlakukan amnesti pajak. Mereka, WNI, yang menyimpan uang di Singapura harus membayar pajak. Modus lainnya, Jokowi minta agar para taipan itu membawa uangnya ke Indonesia. Tentu, mereka diberi berbagai kemudahan untuk menginvestasikan uangnya di Indonesia dan pemerintah tidak akan menanyakan uangnya dulu dari mana (sebab bisa saja uang tersebut berasal dari bisnis haram).

Tidak efektif

Langkah pertama, memajaki uang simpanan WNI di Singapura (dengan besaran hanya 2% dari aset) ternyata kurang bermanfaat bagi Indonesia. Kenapa? Karena uang itu masih tetap berada di Singapura. Pemerintah Singapura yang takut perbankan ambruk (setelah uang milik WNI ditarik ke Jakarta), bersedia membayar pajak 2% tersebut (atas nama pemilik uang), asal uangnya tetap berada di Singapura. Bahkan belakangan, sejumlah perbankan Singapura berani membayar 4% dari aset (uang yang tersimpan) kepada para taipan Indonesia agar dananya tetap berada di Singapura.

Langkah berikutnya, Jakarta memberi karpet merah untuk pemilik uang yang akan membawanya kembali ke tanah air dengan berbagai fasilitas dan pengampunan. Ini pun dihalangi Singapura dengan modus bahwa para penarik uang tersebut telah menyimpan uang haram di Singapura. Kepolisian Singapura akan menangkap pemilik uang (WNI) yang menarik uangnya dengan tuduhan melanggar UU Perbankan.

Dengan adanya “hambatan” dari Pemerintah Singapura tersebut, banyak pihak menyarankan pemerintah Indonesia “membatalkan” UU kerahasiaan Bank. Artinya, para taipan yang menyimpan uangnya di Singapura diumumkan saja namanya ke publik agar masyarakat tahu siapa-siapa saja “WNI yang tak punya rasa nasionalisme” itu.

Itulah “kelicikan” Singapura. Presiden BJ Habibie pernah menyatakan Singapura adalah “red dot” (titik merah) dalam perekonomian Indonesia. Singapura selama ini, dengan diam-diam, merayu para taipan Indonesia agar uangnya disimpan di Singapura dengan jaminan keamanan yang tinggi dan keuntungan yang menggiurkan. Kemudian Singapura juga menerima para pelarian dan buron (koruptor dan konglomerat hitam dari Indonesia) dengan imbalan uang mereka disimpan atau diinvestasikan di Singapura.

Itulah sebabnya selama berpuluh tahun, Singapura adalah “tempat persembunyian” para koruptor dan konglomerat hitam dari Indonesia yang dikejar-kejar aparat hukum di tanah air. Indonesia saatnya sadar bahwa negeri ini adalah negara besar. Sudah cukup rasanya dikibuli Singapura. Sekarang saatnya duit itu balik ke Indonesia untuk membangun negara.

Dari sepak terjang Singapura dalam menghadapi kebijakan amnesti pajak Pemerintah Indonesia ini, Jakarta seharusnya tahu bahwa Singapura ternyata bukan teman yang bisa mengerti dan memahami posisi Indonesia. Singapura negeri kecil itu, rakyatnya sudah sangat sejahtera dibanding Indonesia jauh lebih kaya segala-galanya dibandingkan Singapura (emas, perak, sawit, ikan, dan lain-lain).

Tapi kenyataannya? Indonesia menjadi negara miskin. Jika antara dassollen (apa yang seharusnya) berbeda dengan dassein (kenyataan yang terjadi), berarti ada apa-apa dengan Indonesia. Dan itu yang harus kita perbaiki.

Dalam kasus amnesti pajak, sesama negara ASEAN seharusnya Singapura bersikap proaktif terhadap kebijakan jakarta dalam hal amnesti pajak dan repatriasi modal WNI di luar negeri ke tanah air. Sikap Singapura yang menghalang-halangi penarikan uang milik WNI di perbankan Singapura bisa menjadi preseden buruk dalam relasi antaranggota ASEAN.

Padahal, terbentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sejak tahun 2015, tujuannya agar semua anggota ASEAN mengambil manfaat dari keterbukaan perdagangan dan tenaga kerja se-ASEAN secara bersama-sama. Bila Singapura mencederai “niat kerjasama” itu, berarti “red dot” akan tetap menjadi “red dot” yang mengganggu perekonomian Indonesia.

Sumber : Harian Kontan 4 Oktober 2016

Penulis : Ahmad Riza Patria

http://www.pengampunanpajak.com

info@pengampunanpajak.com

Iklan


Kategori:Pengampunan Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: