Menimbang Urgensi Tax Amnesty

imagesSebagaimana diberitakan kontan, 18 Desember 2014, demi menarik pulang sebagian dari sekitar Rp 3.000 triliun lebih uang masyarakat Indonesia yang tersimpan di perbankan Singapura, pemerintah berniat menawarkan pengampunan pajak atau tax amnesty. Karena itu, pemerintah berupaya membuat payung hukum baru melalui revisi UU No 28 Tahun 2007 tentang ketentuan umum perpajakan atau membuat UU khusus tentang pengampunan pajak.

Dapat dikatakan kebijakan tax amnesty adalah bukan kebijakan yang popular, karena kebijakan ini lebih pro kepada kalangan berduit yang tidak jujur dalam urusan pajak. Namun demikian, bukan berarti kebijakan ini tidak baik bagi perekonomian.

Kebijakan tax amnesty bisa dikatakan salah satu cara inovatif untuk meningkatkan penerimaan pajak tanpa menambah beban pajak baru kepada masyarakat, dunia usaha , dan para pekerja. Meski kebijakan tax amnesty sering kali menimbulkan pro kontra, banyak negara yang sukses menjalankan kebijakan tersebut. Negara-negara tersebut antara lain Argentina, Belgia, Kolombia, Prancis, India, Irlandia, dan Afrika Selatan.

Sesungguhnya, Indonesia sudah pernah menjalankan kebijakan pengampunan pajak, yaitu pada tahun 1964 dan tahun 1984. Pengampunan pajak pada tahun 1964 menyangkut penghasilan atau akumulasi modal yang diperoleh sebelum 10 November 1964 yang belum dilaporkan dalam surat pemberitahuan dan yang belum dikenakan pajak pendapatan, pajak perseroan, maupun pajak kekayaan.

Pengampunan pajak pada saat itu tidak mempersoalkan sumber penghasilan, apakah dari kegiatan legal maupun aktivitas ilegal. Sementara kebijakan tax amnesty tahun 1984 utamanya didasarkan karena perubahan sistem yang dianut dari official assessment menjadi self assessment.

Ide berlakunya tax amnesty kembali bergulir pasca krisis ekonomi 1998, tepatnya pada saat Rizal Ramli menjabat sebagai Menteri Keuangan. Waktu itu, rencana untuk menerapkan tax amnesty merupakan salah satu rencana dari paket reformasi di bidang perpajakan dan juga dalam rangka meningkatkan pendapatan dari sektor pajak. Salah satu langkah yang telah disepakati oleh pemerintah kala itu adalah dengan membuat UU tentang pengampunan pajak.

Sayangnya, upaya untuk membuat UU tersebut layu sebelum berkembang. Sebagai gantinya, dalam UU No 28 Tahun 2007 tentang perubahan ketiga UU No 6 tahun 1983 tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan terdapat salah satu kebijakan yang cukup penting yaitu sunset policy yang tertuang dalam pasal 37A. tapi pasal ini hanya berlaku satu tahun, yakni tahun 2008.

Pasal tersebut menyebutkan, “wajib pajak yang menyampaikan pembetulan surat pemberitahuan tahunan pajak penghasilan sebelum tahun pajak 2007, yang mengakibatkan pajak yang masih harus dibayar menjadi lebih besar dan dilakukan paling lama dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah berlakunya undang-undang ini, dapat diberikan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi berupa bunga atas keterlambatan pelunasan kekurangan pembayaran pajak yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan peraturan menteri keuangan”.

 

Kesiapan pelaksanaan

Sunset policy tersebut bisa dikatakan sebagai kebijakan soft tax amnesty, yaitu hanya memungkinkan untuk memberikan pengampunan atas sanksi administrasi. Karena itu, sunset policy tidak cukup menarik untuk memulangkan dana-dana yang di parker di luar negeri. Karena pada dasarnya para pemilik dana tersebut menginginkan pengampunan pajak yang menyeluruh, termasuk pengampunan atas sanksi pidananya (hard tax amnesty), sebagaimana yang pernah dilakukan pada tahun 1964.

Kebijakan hard tax amnesty selain lebih memiliki daya tarik bagi kembalinya dana-dana ke tanah air, juga patut dipertimbangkan untuk dilaksanakan mengingat pada masa lalu sistem perpajakan dan birokrasi pemerintahan belum sepenuhnya menerapkan good governance and clean government. Dengan demikian, penggelapan pajak bukan hanya karena perilaku si pembayar pajak, melainkan juga karena penyelenggaraan negara yang kurang baik. Kebijakan tax amnesty ini akan menjadi semua pihak memulai dengan lembaran baru yang bersih.

Akan tetapi perlu digarisbawahi, beberapa hasil studi menunjukkan bahwa terjadi penurunan tingkat kepatuhan membayar pajak pasca kebijakan tax amnesty. Karena itu, perlu dipastikan bahwa kebijakan tax amnesty dilaksanakan secara cermat dan hati-hati. Untuk itu, setidaknya ada tiga hal yang perlu dipersiapkan dan dilaksanakan untuk mendukung keberhasilan kebijakan pengampunan pajak.

Pertama, perlu melakukan sosialisasi jauh-jauh hari mengenai rencana pengampunan pajak. Kedua, perlu didukung perangkat adminisrasi perpajakan modern melalui program Single Identification Number (SIN). Ketiga, pasca diberlakukannya tax amnesty, penegakan hukum secara tegas mutlak dilakukan, konsisten, dan tidak pandang bulu.

Dengan demikian, kebijakan pengampunan pajak diyakini dapat membantu meningkatkan kepatuhan membayar pajak karena makin efektifnya pengawasan, karena semakin akuratnya informasi mengenai daftar kekayaan wajib pajak. Di sisi lain, para wajib pajak yang belum atau kurang patuh dapat membayar pajak dengan lebih tenang, lepas dari rasa takut yang selama ini menghantuinya, karena catatan penghasilannya yang buram telah diputihkan.

Tantangan terberat penerapan tax amnesty adalah pada proses politik. Sebab, jika kebijakan ini tidak didesain secara hati-hati akan melukai rasa keadilan. Selain itu, sebagai sebuah kebijakan yang tak popular, akan mudah “digoreng” oleh kelompok kepentingan tertentu guna meraih simpati publik. Dan untuk itu butuh keberanian politik dari pengambilan kebijakan.

 

Sumber: KONTAN

http://www.pengampunanpajak.com

info@pengampunanpajak.com

Iklan


Kategori:Pengampunan Pajak

Tag:, , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: