Mengiring Dana Amnesti Pajak ke Bursa Berjangka

Permohonan restitusi dIperketat

Perusahaan pialang berjangka siap menampung dana repatriasi.

Dua bulan telah berlalu sejak pemerintah secara efektif memberlakukan kebijakan pengampunan pajak alias tax amnesty. Sedari awal, pemeriintah menargetkan dana repatriasi lewat program ini mencapai Rp 1.000 triliun hingga Maret 2017 mendatang.

Mengacu ke aturan main pengampunan pajak, dana repatriasi harus masuk ke instrument perbankan lebih dahulu melalui bank gateway yang di tunjuk pemerintah. Tapi, melihat target seribu triliun dana tax amnesty bukan cuma perusahaan jasa keuangan yang kepincut menyedot duit segede itu. Sejumlah perusahaan piala berjangka pun tergiur menikmati dana repatriasi.

Kesempatan itu datang setelah Menteri Keuangan Sri Mulyani merevisi peraturan mengenai instrumen investasi yang bisa digunakan untuk menampung dana repatriasi.

Di ketentuan sebelumnya, yakni Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 119/PMK.08/2016, pemerintah hanya menetapkan 10 instrumen investasi. Dalam beleid yang baru, PMK No. 123/PMK.08/2016, ditambah satu instrumen lagi: kontrak berjangka yang diperdagangkan di bursa berjangka di Indonesia.

Nantinya, penempatan pada instrumen kontrak berjangka juga dilakukan melalui gateway yaitu lembaga keuangan yang ditunjuk pemerintah.

Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Bachrul Chairi mengungkapkan, sesuai perintah yang tertuang dalam PMK No 123/PMK.08/2016, lembaganya sudah membentuk sebuah tim khusus untuk merancang regulasi yang terkait dengan tata cara pengalihan dana repatriasi melalui perdagangan kontrak berjangka.

Ketentuan itu meliputi penentuan bank persepsi sebagai pentimoanan dana marjin, rekening khusus sebagai gateway dana repatriasi, pelaku usaha yang bisa memanfaatkan dana repatriasi, dan dana margin dalam kontrak berjangka sebesar 100% pada lembaga kliring. “Saat ini tim kami sedang menyusun tata caranya. Targetnya pada November nanti aturannya bisa terbit,” harap Bachri.

Kriteria pialang

Kelak, menurut Bachri, kontrak berjangka yang diperdagangkan di bursa berjangka hanya terbatas pada kontrak –kontrak multilateral. Kontrak ini terkait langsung dengan komoditas strategis dan ekspor. Misalnya, olein, minyak sawit, kopi, kakao, juga emas.

Kepala Biro Hukum Bappebti Sri Haryati menambahkan, ada beberapa kriteria bagi pialang yang boleh menjual produk untuk menampung dana repatriasi. Contoh, pialang tersebut harus aktif bertransaksi di bursa serta memiliki kredibilitas dan integritas yang bagus. Artinya, pialang yang sudah pernah di bekukan kemungkinan besar tidak bisa ambil bagian dalam menjalankan produk ini.

Selain itu, ada pula kriteria mengenai modal minimum. Selama ini, modal minimum yang disyaratkan Bappebti bagi pialang adalah Rp 10 miniliar atau 10% dari total dana yang dikelola. Ini disebut modal bersih disesuaikan. “Kriteria lengkapnya kami umumkan saat aturannya rampung,” ucap Sri.

Targetnya, November 2016 aturan dana repatriasi di bursa berjangka bisa terbit.

Catatan saja, saat ini ada 70 pialang berjangka dan 2.429 wakil pialang berjangka. Indonesia memiliki dua bursa berjangka dan dua lembaga kliring berjangka. Dan, pialang berjangka yang sudah menyatakan minatnya untuk menarik dana pengampunan pajak adalah PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ), lebih dikenal Jakarta Futures Exchange (JFX).

Stephanus Paulus Lumintang, Direktur Utama BBJ, menyatakan perusahaannya telah memiliki produk investasi yang siap menampung dana repatriasi. Cuma, ia belum bisa memberikan detail produk itu. “Produk sudah ada tapi kami harus menunggu petunjuk pelaksanaan dan teknis dari Bappebti. Jadi, kami menunggu lampu hijau Bappebti,” ujar dia.

Target Rp 5 triliun

Yang jelas, komoditas yang bakal jadi andalan BBJ adalah emas. Sebab, logam mulia merupakan produk yang sudah sangat dikenal pasar serta perputaran investasinya cepat.

Produk komoditas lain, seperti olein dan kopi, juga akan diminati. Cuma, Stephanus memproyeksikan peminat komoditas emas bakal jauh lebih banyak. Apalagi, emas salah satu instrumen investasi yang tergolong aman. “Investor bisa pegang fisiknya,” katanya.

Stephanus mencontohkan, investor yang masuk dalam program tax amnesty memiliki dana Rp 100 miliar dan diinvestasikan ke emas. Ketika masuk, harga emas 1 kilogram (kg) sebesar Rp 500 juta. Pada satu titik, harga emas bisa naik menjadi Rp 550 juta per kg. Nah, si investor akan mengkantongi keuntungan bila melepas emasnya. Kendati hasil repatriasi pajak Rp 100 miliar tak bisa mengambil margin dari investasinya.

Selain produknya tergolong aman, dalam perdagangan berjangka pemodal bisa mengambil posisi berlawanan. “Artinya, investor dapat mengambil posisi si jual sejak awal, berbeda dengan saham yang harus beli dulu baru jual,” ujar dia.

Tapi, Stephanus mengingatkan, semua produk lembaga keuangan tetap mimiliki risiko. “Terlebih untuk produk investasi,” beber Stephanus.

Ia optimistis, aturan main penampungan dana amnesti pajak oleh pialang berjangka bisa diterbitkan Bappebti November mendatang. “Target dana repatriasi yang masuk ke pasar berjangka Rp 4 triliun- Rp 5 triliun,” ungkapnya.

Perusahaan pialang berjangka lainnya yang siap menampung dana repatriasi ialah PT Monex Investindo Futures. Bahkan, merekka menargetkan nasabahnya bisa bertambah 6.000 nasabah hingga akhir 2016. “Target kami sebenarnya menambah nasabah 15% atau sekitar 3000 nasabah tahun ini. Tapi, setelah ada tax amnesty, kami optimistis bisa dua kali lipatnya,” kata Omegawati, Head of Public Relations Monex Investindo Futures.

Saying, Omegawati belum mau menyebutkan produk berjangka yang disiapkan Monex Investindo untuk menampung dana tax amnesty. Saat ini, mereka masih melakukan edukasi dengan menggelar seminar tranding di berbagai daerah.

Hanya, Ibrahim, Direktur Utama PT Garuda Berjangka, menilai, investor harus betul-betul memahami fundamental komoditas yang dibidik sebelum membeli produk investasinya. Sebab, dalam perdagangan berjangka, sifat high risk high return sangat nyata terjadi. Maklum, keuntungan yang bisa diraih pemodal bisa mencapai 100%. Begitu pula sebaiknya, jika merugi.karena itu, investor hanya bisa memakai 10% dari dana repatriasi pajak yang di masukkan di perbankan.

Penulis : Agung Jatmiko, Dikky Setiawan

Sumber : Tabloid Kontan

http://www.pengampunanpajak.com

info@pengampunanpajak.com

 

 



Kategori:Pengampunan Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: