Menadah Amnesti Pajak Saat Bunga Kian Rendah

Image result for tax amnesty saham

Prospek dan pilihan saham dari sektor perbankan

Saham perbankan merupakan salah satu motor penggerak bursa saham di tanah air. Terbukti, sejak Mei lalu, harga saham beberapa bank telah naik 10% dan turut mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus angka 5.200.

Semua itu ditopang oleh kinerja keuangan sektor perbankan yang relative lebih baik dibandingkan sektor lainnya. Tahun lalu, rata-rata emiten sektor ini berhasil membukukan laba bersih meski kondisi ekonomi Indonesia melambat.

Kini, saat terlihat aliran dana asing masuk, saham perbankan lagi-lagi menjadi incaran. Dus, Anda bisa ikut melirik saham sektor ini sebagai wahana investasi. Cuma, tetap harus jeli memilih saham yang berpotensi menghasilkan cuan.

Ada sebanyak 42 emiten bank yang melantai di bursa, empat diantaranya adalah Bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Untuk memilih san memilahnya, ada beberapa hal mesti Anda cermati.

Pertama, soal likuiditas saham. Likuiditas ini penting jika Anda ingin menjual kembali dalam waktu relative cepat. Saham-saham yang likuid akan mudah dibeli dan dijual kembali kapan pun Anda butuh. Kedua, cermati berbagai factor yang ikut memengaruhi sentiment berikut fundamental perusahaan bank tersebut.Tujuannya, agar Anda bisa mendapat saham di harga yang wajar dan bisa mendulang imbal hasil yang maksimal.

Head of Investment PT Asanusa Asset Management Farash Farich menyebut, sekor perbankan cenderung lebih cepat bangkit (rebound) setelah perlambatan tahun lalu karena sektor ini memiliki bobot paling tinggi dalam struktur IHSG. “Ketika ada flow of fund masuk, mereka akan memiih beli big caps dulu, “kata Farash.

Meski bursa kembali bangkit setelah perlambatan, ada beberapa hal yang perlu Anda cermati saat memilih sektor ini masuk dalam portofolio investasi Anda. Pertama, kinerja sektor ini di semester pertama 2016 masih belum menggembirakan. Kredit masih melambat dan hanya tumbuh 8,33% dari Juni 2015. Kedua, tren non performing loan (NPL) atau kredit bermasalah menanjak ke angka 3,11% per Mei lalu, dari 2,9% pada April.

Cermati sentiment

Jika ingin mengoleksi saham bank, laporan keuangan kuartal ketiga perlu Anda perhatikan. Dari sini, Anda bisa mencermati performa bank yang ingin dikoleksi. Apakah NPL-nya naik dan apakah margin dari usahanya tumbuh.

Selain kinerja fundamental, sentiment juga perlu jadi pertimbangan. Menjelang akhir 2016, ada beberapa sentimen memayungi sektor perbankan, mulai dari tax amnesty atau pengampunan pajak, proyek infrastruktur pemerintah, hingga proyeksi pertumbuhan ekonomi di semester kedua tahun ini.

Analis Philip Securities Indonesia Milka Mutiara bilang, amnesty pajak dan dana repatriasi member sentiment positif, terutama untuk bank persepsi yang ditunjuk pemerintah. Mereka antara lain Bank Mandiri, BNI, BRI, dan BTN yang merupakan bank pelat merah, serta tiga bank swasta, yakni BTPN, BCA, dan Bank Danamon. “Bank-bank tersebut akan mendapatkan tambahan likuiditas dengan biaya tidak terlalu mahal sehingga berpotensi meningkatkan pendapatan jika bank-bank tersebut berhasil menyalurkan dalam bentuk kredit,”ujar Milka.

Menurut Frederik Rasali, analis Minna Padi Investama, amnesty pajak memberikan peluang sangat besar bagi emiten perbankan untuk mendapatkan sumber pendanaan murah dan meningkatkan kegiatan perkreditan. “Walau begitu, perlu diperhatikan apakah dana tersebut akan masuk dengan lancer dan jumlahnya mencukupi sehingga kinerja dapat meningkat,”kata frederik.

Selain itu, perlu dicermati, apakah bank mampu secara tepat menyalurkan limpahan dana itu. Jika tidak, dana itu akan menjadi aset yang tak produktif dan justru mengurangi profitabilitas bank.

Selain soal manajemen aset, investor perlu melongok cara bank tersebut dalam menyalurkan kreditnya. Bila kurang berhati-hati, penyaluran kredit itu bisa mendorong tingkat kredit macet.”Kenaikan NPL, single digit loan rate, masalah likuiditas jadi sentiment negative sektor ini,”imbuh Milka.

Dalam jangka pendek ini, ekspektasi kinerja kuartal ketiga serta pulihnya ekonomi setelah pertumbuhan ekonomi di semester kedua mencapai 5,12% menjadi angin sepoi yang mendorong kenaikan harga saham perbankan.

Tapi, bila ingin mulai mengoleksi saham bank, Milka maupun Farash mengingatkan soal valuasi. Dengan lonjakan harga beberapa waktu belakangan, praktis saham beberapa emiten bank lebih mahal daripada harga wajarnya.

Berikut, saham bank yang bisa mesuk dalam radar investasi Anda:

BBRI

PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk (BBRI) merupakan bank unik dengan pangsa pasar terbesar di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

BRI kini memiliki 10.612 jaringan hingga ke pelosok Tanah Air. Masing-masing terdiri 5.360 BRI Unit dan 2.543 Teras BRI. Pada 19 Juni lalu, BRI meluncurkan satelit agar biaya operasional jaringanya lebih efisien. “BBRI punya bisnis yang unik dan sulit ditiru bank lain, nature konsumennya di sektor UKM membuat BRI juga bisa mendapat margin lebih tinggi dari emiten bank lainnya,”kata Farash Farich, Head of Investment Asanusa Asset Mangement.

Emiten berkode BBRI ini juga masuk ke dalam daftar bank yang menerima dana repatriasi. Dengan demikina, diharapkan BBRI bisa menaikkan dana murah terhadap total dana pihak ketiga (DPK) menjadi 65% dari 56, 54%.

Analis Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adi Joe memperkirakan, pendapatan dan laba bersih BBRI akan naik 10%-15% dibanding tahun lalu.

Dalam laporannya, Mandiri Sekuritas menyebut, kualitas aset BBRI dalam kondisi terkontrol. NPL BRI memang naik dari 2,02% pada Desember 2015 menjadi 2,22% per Maret tahun ini. Bahkan, Mandiri Sekuritas memprediksi, NPL ini bisa menanjak menjadi 2,43% pada pertengahan tahun ini (laporan keuangan belum keluar). Namun sekuritasyang optimistis, BBRI bisa menekannya ke posisi 2,37% pada akhir tahun ini. NPL BBRI ini masih lebih rendah ketimbang NPL industry yang sebesar 2,84%.

Sementara itu, net interest margin (NIM) atau marjin bunga bersih BBR diramalkan sebesra 7,5%. Dari sisi permodalan, rasio kecukupan   modal atau capital adequacy ratio (CAR) BBRI hingga akhir tahun ini diperkirakan berada di angka 17,2%. Adapun, laba bersih diperkiraka mencapai Rp 24,83 triliun dengan dividend yield sebesar 3,0%.

Rentang harga saham BBRI selama 52 minggu berkisar di Rp 7.975-Rp 12.300.Farash menyarankan untuk beli di harga terendah.

BBTN

Sebagai bank spesialis perumahan, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) juga punya posisi unik. Terbukti pada laporan semester I 2016, BBTN berhasil membukukan laba bersih Rp 1,04 triliun. Angka ini naik sebesar 25,4%. Di periode sama tahun lalu, laba bersih BBTN hanya Rp 850 miliar.

Perolehan kinerja kinclong BBTN ditopang oleh penyaluran kredit di sektor perumahan yang meningkat dari Rp 112,90 triliun menjadi Rp 135,74 triliun. Sepanjang semester I 2016, BBTN telah menyalurkan kredit Rp 149,31 triliun, dari Rp 126,12 triliun per Juni 2015.

Milka memuji prestasi BBTN. Sebab, meski kreditnya tumbuh dua digit, BBTN mampu menetapkan rasio NPL dari 4,70% pada tahun lalu menjadi 3,41% per Juni 2016.

Soal modal, BBTN memiliki rasio cukup aman sebsar 22,07%. Begitu juga dari sisi likuiditas, BBTN mencatat pertumbuhan DPK sebesar 17,29% menjadi Rp 134,55 triliun. “Pertumbuhan laba dan pendapatan tahun ini kami perkirakan masih bisa tumbuh 25% year on year sampai akhir tahun, “kata Milka.

Tahun ini, BBTN mendapat angin segar dengan program satu juta rumah dari Presiden Joko Widodo. Menurut laporan Sekuritas Sinarmas, BBTN akan melanjutkan pertumbuhan kredit di sektor perumahan dan akan menguat di semester kedua tahun ini. Prediksi ini diperkuat dengan alokasi anggaran pemerintah terkait program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Anggaran ini sudah dialokasikan sebesar Rp 9,2 triliun dan sudah dibayar sebesar Rp 5,6 triliun pada tahun lalu. Tahun ini, BBTN telah menyerahkan tagihan sebesar Rp 13,9 triliun kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Dari total tagihan itu, Rp 5,6 triliun sudah dibayar tahun lalu dan Rp 8,3 triliun di paruh pertama 2016. Injeksi dana ini akan memengaruhi rasio current account saving account (CASA) atau dana murah BBTN.

Dana dari FLPP ini juga diprediksi membantu pertumbuhan marjin BBTN. Sebab bank ini harus menyalurkannya dalam bentuk kredit perumahan bersubsidi dengan suku bunga sebesar 5%. Sekuritas Sinarmas memprediksi, dalam 52 minggu ke depan, harga BBTN bisa mencapai Rp 2.380 per saham.

Sejak Juli hingga pertengahan Agustus ini, harga BBTN bergerak di rentang Rp 1.690-Rp 2.030 per saham. “Kami rekomendasikan buy on weakness,”kata Milka.

BBNI

Paruh pertama tahun ini, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencetak kinerja positif. Laba bersihnya melesat menjadi Rp 4,4 triliun. Dalam risetnya, Evan Lie Hadiwidjaja dari Sekuritas Sinarmas mengatakan, pertumbuhan kredit BBNI tumbuh sebesar 23,7% menjadi Rp 357, 218 miliar dibandingkan dengan paruh pertama 2015, sebesar Rp 288,723 miliar. Begitu juga DPK, tumbuh 19,6% menjadi Rp 391,490 miliar dari Rp 327,260 miliar.

Sayang, NIM BBNI terpangkas 0,5% akibat restrukturisasi kredit dan penurunan bunga pinjaman untuk segmen UKM. BBNI mengalokasikan Rp 7,4 triliun untuk restrukturisasi kredit pada kuartal II 2016, sehingga jumlah kredit yang direstrukturisasi mencapai Rp 29,9 triliun. Manajemen menunjukkan bahwa kredit yang direstrukturisasi memiliki yield rata-rata 7,3%, jauh lebih rendah daripada suku bunga kredit rata-rata bank.

Meski begitu, nilai aset BBNI mencapai Rp 539,14 triliun per Juni 2016, tumbuh 25,1% dibanding tahun lalu.

Pada paruh kedua 2016, BBNI akan menggenjot kredit segmen konsumen seiring dengan daya beli konsumen yang meningkat. Frederik memprediksi, pendapatan BBNI sampai akhir tahun nanti akan tumbuh 14,6%.

Selama 52 minggu, harga emiten berlogo 46 ini berada dikisaran Rp 3.800-Rp 5.850 per saham. Dalam risetnya, analis Ciptadana Sekuritas Syaiful Adrian menyarankan untuk hold saham berkode BBNI ini hingga target mencapai Rp 6.300 per saham. Dia bilang, tahun depan, return on equity BBNI menjadi 15%.

BMRI

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)hingga Juni lalu membukukan laba bersih Rp 7,1 triliun. Senior Equity Analyst Sekuritas Sinarmas Evan Lie Hadiwidjaja menyebut dalam risetnya, NPL kotor BMRI naik menjadi 3,9%. Selain itu, setelah melakukan restrukturisasi, kredit BMRI naik menjadi Rp 34,1 triliun atau naik sebesar 63,2% dibanding setahun sebelumnya.

BMRI pada kuartal ketiga tahun ini juga masih akan melakukan restrukturisasi kredit dan akan berpengaruh pada NIM. Evan bilang, NIM akan jatuh dibawah angka 6%. Apalagi, setelah kredit direstrukturisasi, penurunan BI rate akan memberikan tekanan tambahan untuk BMRI.

Farash menyebut, BMRI harus menyelesaikan persoalan NPL dan merapikan portofolio kreditnya. “Terlepas dari euphoria tax amnesty, para investor tetap harus memperhatikan factor fundamental perusahaan bank, “saran dia.

BMRI merupakan bank pelat merah dengan kinerja yang kurang menggembirakan di paruh pertama tahun ini. Jika investor ingin memasukkan saham ini dalam kantong portofolio, sebaiknya menunggu laporan kuartal ketiga dan kempat. Apalagi, harga BMRI sudah melampaui valuasinya. Farash tak menyarankan mengoleksi saham ini untuk jangka pendek. “Harga naik banyak, jika ingin masuk, tunggu koreksi dulu sebelum rally lagi,”ujar Farash.

Walau begitu, Evan Lie menyebut, BMRI unggul karena memiliki aset dan anak usaha yang banyak, terutama dibidang wealth management, untuk menjaring dana repatriasi dari para peserta tax amnesty.

Namun, dia bilang, investor harus berhati-hati, sebab return on equity (ROE) bank ini turun cukup signifikan, dari 18,5% di paru pertama tahun lalu menjadi 10,6% di tahun ini. Dia merekomendasikan netral sampai bank pelat merah ini terlihat bisa membukukan peningkatan pendapatan.

BBCA

Pada kuartal kedua tahun ini, pendapatan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tumbuh 8% ketimbang setahun lalu. Adapun pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) BBCA mencapai Rp 19,7 triliun atau naik 15%. Ini seiring dengan penyaluran kredit BBCA yang naik 11,5% menjadi Rp 387 triliun. Sebanyak 20% disumbang dari segmen korporasi. Milka memprediksi, kredit konsumen akan tumbuh lebih tinggi di kuartal berikutnya, didukung bunga kredit rendah dan program-program promosi. Ang menarik, BBCA selalu berhasil menekan NPL nya rendah. Hingga Juni lalu, rasio NPL BCA hanya 1,4%. Milka menaksir, NPL BBCA akan berada di angka 2% sampat akhir 2016.

Untuk jangka pendek, posis sebagai salah satu bank persepsi akan menjadi katalis bagi bank milik Grup Djarum ini. “Ada jeda waktu antara batas pembayaran uang tebusan untuk periode pertama (akhir September) dan batas repatriasi, sehingga kita berharap penyaluran kredit akan meningkatkan kuartal mendatang,”kata Milka.

Terlepas dari kinerja BBCA yang melampaui ekspektasi, Milka memprediksi, pendapatan BBCA tetap tumbuh sebesar 8% sampai akhir tahun ini dan 11% di tahun depan. Sebab, di kuartal keempat tahun ini, sektor perbankan, termasuk BBCA, perlu mengantisipasi perolehan margin yang lebih tipis karena kebijkan pemerintah memangkas suku bunga. “Kami melihat potensi downside bisa datang dari tingginya NPL hingga 2% di tahun ini dan soal penurunan suku bunga kredit dari pemerintah yang bisa memangkas margin BBCA,”kata Milka.

MIlka merekomendasikan jual, mengingat harga BBCA sudah bertengger di angka Rp 15.000(9/8). Tapi, bagi investor, fundamental yang bagus membuat BBCA layak dikoleksi meski saat ini saham BBCA sudah kemahalan.

Penulis : Dian Sari Pertiwi

Sumber : Tabloid Kontan

http://www.pengampunanpajak.com

info@pengampunanpajak.com

 

 

 

 

 



Kategori:Pengampunan Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: