Pengusaha Minta Tarif Pajak Turun, ya, Wajar

Image result for tahir

Memasuki bulan terakhir dari periode pertama pengampunan pajak, uang tebusan mengalir deras. Mengutip dashboard Amnesti Pajak yang termuat di laman Direktorat Jenderal Pajak, nilai uang tebusan terkini mencapai Rp 7,19 triliun, atau setara dengan 4,4% dari target penerimaan. Angka itu juga naik dua kali lipat dibandingkan dengan uang tebusan yang masuk hingga Agustus, yaitu Rp 3,12 triliun.

Semakin derasnya aliran uang tebusan yang masuk ke kantong negara tentu tidak lepas dari semakin jelasnya aturan main pengampunan pajak. Sejumlah pertanyaan teknis seputar tax amnesty yang sempat muncul, sudah di jawab pemerintah.

Penyebab lain uang tebusan mulai mengalir deras adalah ini bulan terakhir periode pengampunan pajak yang memberlakukan tariff tebusan terendah. Kehadiran sejumlah pengusaha papan atas sebagai peserta pengampunan pajak juga ikut meningkatkan besarnya nilai uang tebusan uang masuk sepanjang September.

Satu pengusaha besar di negeri ini yang menyatakan telah ikut pengampunan pajak adalah Dato Sri Tahir, pemilik sekaligus pengendali kelompok usaha Mayapada . Untuk mengetahui apa alasannya mengikuti amnesty pajak, Wartawan KONTAN Thomas Hadiwinata mewawancarai Tahir, Rabu pekan lalu.

Berikut nukilannya:

KONTAN: Seperti apa pandangan Anda terhadap pengampunan pajak?

TAHIR: Pertama, melalui pengampunan pajak pemerintah bukan sekadar mengumpulkan uang,katakana Rp 50 triliun ata Rp 100 triliun. Buka n itu. Ini lebih soal kepentingan nasional, yang bukan tentang menutup deficit. Maksud kepentingan nasional di sini adalah penduduk kita sudah 250 juta, tetapi yang patuh pajak Cuma sejuta atau berapa lah. Ini tidak benar. Kedua, pemerintah tidak tahu tahun ini terima berapa, tahun depan terima berapa. Tidak bisa ditebak. Ini tidak benarnya, harusnya ada continuity, sustainable, dan well planned. Pemerintah menggelar tax amnesty supaya jumlah pemilik Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) naik. Saya ambil conto keluarga saya sendiri. Keluarga saya ada enam orang. Dengan tax amnesty, kami semua melapor.

Nah saya melihat untuk menunjang kontinuitas dari pertumbuhan ekonomi Indonesia, tax amnesty adalah salah satu sarana terbaik. Untuk menyadarkan lebih banyak pengusaha. Supaya mereka lebih teratur. Tidak lagi kucing-kucingan sama petugas.

KONTAN: Memang masih banyak , ya, pengusahayang belum tertib pajak?

TAHIR: Menurut saya, banyak yang tidak teratur. Ada yang menggunakan nama orang. Setelah ikut tax amnesty kan tidak usah begitu lagi. Bagi si pengusaha, juga lebih aman pakai nama sendiri. Kedua, mulailah kita bayar pajak lebih baik.

Pengusaha harus berpikir cycle. Kalau ekonomi lebih baik, daya beli masyarakat bertambah. Tercipta middle class. Kalau di Indonesia bisa ada 50 juta-60 juta pengusaha menengah, Indonesia powerful sekali. Potret ekonomi Indonesia akan berbeda sekali dengan yang ada sekarang. Situasi itu akhirnya menguntungkan pengusaha. Jika daya beli tambah, pasar lebih besar. Orang yang berusaha juga lebih mudah menjual barangnya. Multiplier effect jalan.  Ini pelajaran ekonomi kelas satu. Kalau pengusaha taat pajak, dan multiplier effect yang jalan, akhirnya keuntungan kembali ke dia lagi. Yang usaha akan lebih laku. Kalau situasi itu tercipta, social problem juga lebih rendah. Situasi lebih aman, politik lebih stabil. Ini, potret besar yang harus dilihat.

KONTAN: Proses legislasi Undang-Undang (UU) pengampunan Pajak sangat cepat, dan selisih waktunya dengan pemberlakuan juga mepet. Karena itu, ada yang bilang banyak pengusaha sempat tidak paham apa yang ditawarkan, hingga ragu ikut.

TAHIR: Itu betul. Sebenarnya pembuatan UU kan sudah dari tahun lalu. Tapi saya enggak tahu , dan tidak bisa komentar ya mengapa prosesnya berjalan pelan. Nah, sekarang sudah dikeluarkan, dan batasnya sampai September 2017 kalau ingin mendapat tariff 2%. Saya merasa mungkin asa sebagian kecil petugas pajak yang masih adaptasi. Tapi keraguan pengusaha tidak ada. Sekarang, pengusaha rata-rata berpandangan positif terhadap tax amnesty.

Saya keliling dan mengumpulkan para pengusaha keturunan di Bandung, Jakarta, Surabaya. Yang saya temui itu pengusaha top. Begitu bicara dari hati ke hati, semua pengusaha berpandangan positif. Sekarang mereka lagi bicara dengan konsultan pajak, petugas pajak. Kalau perusahaan besar kan tidak mudah mengikuti  amnesty. Ada unit bisnisnya yang didalam dan luar negeri. Ada yang bentuknya ini itu. Ada yang pakai nama sendiri, atau nama orang. Konsolidasi ini perlu waktu.

KONTAN: Anda sempat bertemu siapa saja?

TAHIR: Yang saya temui itu pengusaha yang top. Di Bandung, seperti Kahatex dan Sanbe Farma, Fujitex. Di Surabaya seperti Alim Markus.

KONTAN: Ada kabar presiden juga menemui langsung sejumlah konglomerat, meminta mereka berpartisipasi?

TAHIR: Saya tidak tahu detail. Tetapi semua orang tahu Presiden keliling berbagai kota, ke Solo, Semarang, Surabaya, Medan, untuk mensosialisasikan tax amnesty. Saya melihat itu positif. Presiden berdiri di garis terdepan, mengambil tanggung jawab. Itu harus kita apresiasi dan berikan respek. Jujur, saya mau ikut ketemu sana sini karena pemimpin kita sudah pasang badan. Program ini harus sukses. Kita sebagai rakyat, ya harusnya ikut.

KONTAN: Apa benar kabar bahwa perbankan di Singapura sibuk melobi pengusaha besar disini agar tidak melakukan repatriasi?

TAHIR: Tidak benar itu. Ini saya konfirmasi. Kabar itu muncul dari cerita orang-orang yang iseng ngomong seenaknya.

KONTAN: Anda termasuk yang bergerak cepat memanfaatkan pengampunan pajak.

TAHIR: Saya menilai ini baik bagi keturunan saya. Saya tidak meninggalkan beban ke mereka. Dengan ikut pengampunan pajak kita dapat begitu banyak kebaikan. Kesatu, kita ikut berpartisipasi dalam membangun ekonomi negeri ini. Kedua, yang dulu nyolong-nyolong , ya, tidak usah melakukan lagi. Re-konsiliasi, lah. Ketiga, untuk anak-anak kita. Jadi, ada sense of belonging, this is my country, this is my place.

KONTAN: Boleh tahu, berapa nilai aset yang Anda deklarasi dalam pengampunan pajak? Apa benar Rp 400 miliar?

TAHIR: Kurang lebih , ya. Jangan salah ditulis Rp 400 triliun. Nanti kalau angkanya terlalu besar, ada yang tersinggung lagi, seperti Djarum atau Sinar Mas (tertawa).

KONTAN: Sempat ada spekulasi bahwa Grup Djarum akan menjadi pembayar uang tebusan terbesar?

TAHIR: Saya tidak yakin. Yang tak bayar uang tebus, tidak berarti tidak nasionalis, lo. Mungkin selama ini mereka sudah bayar.  La, kalau mereka sudah bayar semua, apa lagi yang mereka harus declare? Itu saja. Jadi jangan langsung diartikan yang bayar bagus itu patriot. Mereka yang bayar tinggi, ya, karena dulu kurang rapi saja.

KONTAN: Berati yang bayar tinggi dulunya nakal?

TAHIR: ya itu termasuk analoginya (tertawa). Tapi saya tidak setuju istilah nakal. Saya lebih condong menggunakan kata konsolidasi. Mungkin dulu namanya terpencar, sekarang dikonsolidasikan.

KONTAN: Apa Anda termasuk yang mengikuti pengampunan pajak karena ingin melakukan konsolidasi?

TAHIR: Jangan itu lantas dibawa ke saya dong. Yang pasti, saya tidak ingin dianggap sok patriotic, tapi juga tidak ingin dianggap nakal. Saya hanya berusaha bahwa pertama ini kepentingan nasional. Kedua, ini membawa kebaikan bagi pengusaha sendiri. Pemerintah member kesempatan ke kita untuk membenahi diri supaya usaha kita teratur. Ketiga, kita tidak meninggalkan beban ke keturunan. Kalau bisa dapat tiga manfaat itu, mengapa tidak kita lakukan? Dengan satu peluru, kita bisa kena tiga.

KONTAN: Apa saja harta yang Anda deklarasikan?

TAHIR: Pertanyaan ini seperti disampaikan ke orang yang di hukum, ya. Yang pasti begini, nilainya tidak kecil. Kalau apakah aset yang saya deklarasikan itu paling besar atau paling kecil, tidak relevan. Bagi saya, ketiga poin yang saya sebut tadi yang lebih penting.

KONTAN: Ada yang sempat ragu ikut karena banyak hal teknis yang belum jelas. Anda pernah mengalami keraguan semacam itu?

TAHIR: Terus terang saya tidak menguasai hal teknis. Saya pakai konsultan pajak. Kami sudah beberapa kali bertemulah membahas ini. Saat ketemu, karena saya buka orang yang detail, ya, saya tidak bertanya-tanya. Mungkin anak-anak saya bertanya. Saya paling Cuma ngomong: You tahu tempat saya disini, lalu enaknya bagaimana? Lalu mereka kasih saran begini, begini. Ya saya oke-kan. Memang saya buat keputusan ikut terlebih dulu, baru mencari alasannya. Tapi ada orang yang cari-cari alasan dulu.

KONTAN: Apa tidak ada relasi Anda yang sempat ragu dengan tax amnesty karena hal-hal teknis yang tidak jelas?

TAHIR: Memang, banyak keraguan yang muncul itu lebih bersifat teknis. Seperti apa itu harga wajar. Apakah itu harga perolhan, atau harga appraisal, atau Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)? Namun keraguan untuk mengikuti tax amnesty, tidak ada. Itu hasil yang saya dapat keliling ke kota-kota di Pulau Jawa. Ya, kita lihat nanti hasilnya.

KONTAN: Anda menilai tawaran repatriasi dalam pengampunan pajak menarik?

TAHIR: Saya sudah lakukan itu. Saya tidak mikir terlalu dalam tentang menarik atau tidak. Ini kan komitmen.

KONTAN: Ada yang menyarankan pemerintah melakukan pemangkasan tariff pajak setelah tax amnesty?

TAHIR: Informasi yang saya dapat, itu sedang dibahas. Kalau di luar negeri, tax amnesty selalu diikuti dengan penurunan corporate tax, supaya kita bisa efektif melawan Singapura, Hong Kong. Pemerintah menguasai betul masalah itu. Tapi tentu harus ada proses yang dilalui. Saya bicara dengan orang pajak, arahnya memang aka nada penurunan corporate tax.

KONTAN: itu merupakan permintaan pengusaha?

TAHIR: Pengusaha dari zaman purbakala pasti minta pajaknya dikurangi. Kalau perlu, tidak usah bayar. Jadi jika pengusaha minta tariff pajak turun, menurut saya, ya, wajar-wajar saja.

KONTAN: Pemerintah sempat menyebut tariff pajak penghasilan badan bisa saja turun sampai 18%, bahkan 10%. Apakah itu angka yang diusulkan pebisnis?

TAHIR: Bukan. Mungkin pemerintah melihat negara tetangga. Kalau kita pilih angka terlalu bawah, ya, tidak perlu juga. Sekarang berapa?25%, ya? Mungkin tariff di kisaran 20%, 18% sudah memadai.

KONTAN: Apa tanggapan Anda kalau ada yang mengatakan bahwa tax amnesty ini tak ubahnya jebakan?

TAHIR: Itu penilaian orang yangn mentalnya negative. Lihat apa saja, semuanya miring. Padahal yang miring, dia sendiri. Nanti waktu yang membuktikan ya. Orang-orang yang tidak akan ikut akan menyesal seumur hidup karena program ini ada batas waktunya.

Sumber : Tabloid Kontan

http://www.pengampunanpajak.com

info@pengampunanpajak.com



Kategori:Pengampunan Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: