Ubah Tarif Tebusan

index

Dana senilai ratusan triliun rupiah, bahkan ribuan triliun bakal masuk membanjiri  Indonesia. Demikian prediksi Kementerian keuangan (Kemenkeu) dan Bank Indonesia (BI) tentang potensi uang yang bisa dijaring melalui tax amnesty.

Dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang Pengampunan Pajak, awal pekan ini, Kemenkeu memperkirakan uang yang parkir di luar negeri senilai Rp 1.000 triliun akan terseot pulang oleh program tax amnesty. Nilai perolehan negara, alias pendapatan dari tebusan pengampunan pajak bisa mencapai Rp 60 triliun.

Proyeksi BI sedikit lebih rendah Uang yang mengalir masuk berkisar Rp 560 triliun, sementara perolehan negara dari pembayaran tarif tebusan Rp 45,7 triliun.

Salah satu alasan tentang pentingnya tax amnesty yang kerap disebut pejabat di negeri ini, termasuk Presiden Joko Widodo adalah kemampuan menarik pulang dana-dana yang lama negndon di luar negeri. Namun RUU Pengampunan Pajak yang kini dibahas tak mengharuskan wajib pajak yang ingin memperoleh ampunan atas asetnya yang kini berada di luar negeri, untuk melakukan repatriasi.

Dalam logika sederhana, jika pemerintah ingin tax amnesty bisa memulangkan dana dalam jumlah besar, maka opsi melakukan repatriasi asset harus dibuat lebih menarik daripada mendeklarasi asset, tanpa repatriasi. Ukuran menarik paling sederhana tentunya tarif.

Nah, niat tersebut tidak tercermin dalam struktur tarif tebusan yang termuat di RUU Pengampunan Pajak. Tarif tebusan untuk mereka yang melakukan repatriasi adalah 1%, 2% dan 3%, bergantung pada periode penyerahan permohonan ampunan. Tarif untuk mereka yang melakukan deklarasi? Cuma dua kali lipatnya saja.

Memang, tidak semua wajib pajak yang berharap mengikuti tax amnesty memiliki harta di luar negeri  yang belum dilaporkan. Nah, untuk wajib pajak yang asetnya di dalam negeri, tarif tebusan berkisar 2% hingga 6% masih bisa diterima.

Namun, bagi mereka yang memohon ampunan untuk asset di luar negeri, dan tidak ingin melakukan tarif tebusan yang lebih tinggi.

Memang besar tarif sangat subjektif. Namun kalau selisih tarif tebusan antara wajib pajak yang melaiukan repatriasi dengan wajib pajak yang tidak melakukan repatriasi hanya 1%-3% saja, proyeksi yang disebut BI, apalagi Kemenkeu, sulit untuk tercapai.

Sumber: KONTAN

http://www.pengampunanpajak.com

info@pengampunanpajak.com



Kategori:Pengampunan Pajak

Tag:, , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: