Seberapa Untungnya Ikut Program Pengungkapan Sukarela?

Sampai dengan saat ini berdasarkan data yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Pajak sudah lebih dari 8.000 Wajib Pajak yang mengikuti Program Pengungkapan Sukarela dengan jumlah harta bersih yang diungkapkan sebanyak Rp. 6,8 Trilyun. Hal ini membuktikan bahwa minat masyarakat untuk mengikuti program ini sangat tinggi. Namun tidak sedikit juga masyarakat yang masih ragu dan bahkan menimbang untung ruginya untuk mengikuti program ini. Tulisan kali ini akan mencoba memberikan hitung-hitungan sederhana  tentang kalau anda memiliki harta yang belum dilaporkan di Surat Pemberitahuan Tahunan dan bingung memilih untuk ikut atau tidak diikutkan dalam Program Pengungkapan Sukarela, termasuk kalau ikut mau sekadar deklarasi atau mau sampai investasi sekalian. Setelah membacanya diharapkan anda akan tahu bahwa program ini lebih menguntungkan atau merugikan, agar kemudian lebih yakin lagi dalam mengambil  keputusan untuk mengikuti atau tidak terkait Program Pengungkapan Sukarela ini.

Untuk lebih mudahnya mari kita coba mengilustrasikannya, ilustrasi yang pertama misalnya anda adalah seorang wajib pajak orang pribadi peserta Tax Amnesty pada tahun 2016 yang lalu dan masih memiliki uang simpanan senilai Rp. 2.000.000.000,- yang sudah menjadi milik anda semenjak tahun 2011, karena satu dan lain hal maka belum diungkapkan dalam Tax Amnesty tersebut. Jika atas uang tersebut akhirnya anda mengambil keputusan untuk ikut Program Pengungkapan Sukarela Kebijakan I, maka anda akan mengeluarkan uang untuk pembayaran PPh Final sebesar 8% x Rp. 2.000.000.000,- = Rp. 160.000.000,-.

Dengan kondisi yang masih sama yaitu anda adalah seorang peserta Tax Amnesty, masih memiliki uang simpanan senilai Rp. 2.000.000.000,- yang sudah dimiliki semenjak tahun 2011 dan belum diungkapkan dalam Tax Amnesty tersebut. Atas uang tersebut anda memutuskan untuk tidak ikut dalam Program Pengungkapan Sukarela,  Jelas anda tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun untuk pembayaran PPh Final. Nampaknya lebih menguntungkan bukan? Namun apakah akan berhenti disini? Ternyata tidak, dengan adanya data dari pertukaran data otomatis (AEOI) dan data perpajakan dari instansi, lembaga, asosiasi, dan pihak lain (ILAP) maka sangat besar kemungkinannya Direktorat Jenderal Pajak menemukan data tersebut. Apabila kondisi ini terjadi maka anda akan mengeluarkan uang untuk membayar PPh Final berikut sanksinya sebesar ((30% x Rp. 2.000.000.000,-) + (60% x Rp. 2.000.000.000,-)) = Rp. 1.800.000.000,-. Jadi pilih mengeluarkan uang Rp. 160.000.000,- atau Rp. 1.800.000.000,-?

Ilustrasi yang kedua misalnya anda wajib pajak orang pribadi memiliki tabungan senilai Rp. 1.000.000.000,- yang sudah anda miliki sejak tahun 2018 dan tabungan tersebut belum dilaporkan di SPT Tahunan dari tahun 2018 sampai sekarang. Atas uang tersebut anda memutuskan untuk ikut Program Pengungkapan Sukarela Kebijakan II dengan memilih deklarasi saja (tidak diinvestasikan pada kegiatan usaha sektor pengolahan sumber daya alam atau sektor energi terbarukan di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan/atau surat berharga negara), maka anda akan mengeluarkan uang untuk pembayaran PPh Final sebesar 14% x Rp. 1.000.000.000,- = Rp. 140.000.000,-.

Dengan kondisi yang masih sama yaitu anda memiliki tabungan senilai Rp. 1.000.000.000,- yang sudah anda miliki sejak tahun 2018 dan tabungan tersebut belum dilaporkan di SPT Tahunan dari tahun 2018 sampai sekarang. Atas uang tersebut anda memutuskan untuk ikut Program Pengungkapan Sukarela Kebijakan II dengan memilih untuk diinvestasikan pada surat berharga negara, maka anda akan mengeluarkan uang untuk pembayaran PPh Final sebesar 12% x Rp. 1.000.000.000,- = Rp. 120.000.000,-. Dan karena anda menginvestasikan pada surat berharga negara, maka dalam 5 tahun anda akan mendapatkan imbal hasil kira-kira sebesar Rp. 250.000.000,- (asumsi imbal hasil per tahun 5%). Jadi mau pilih mengeluarkan uang Rp. 140.000.000,- atau mengeluarkan uang Rp 120.000.000,- dan dapat “cashback” Rp. 250.000.000,-?. Dengan memilih opsi yang terakhir maka berarti anda ikut berkontribusi ganda dalam pembangunan bangsa yaitu dari setoran PPh Final yang dibayarkan serta investasi melalui surat berharga negara. 

Masih ada lagi keuntungan bagi yang ikut Kebijakan II maka tidak akan diterbitkan ketetapan pajak atas kewajiban perpajakan untuk tahun pajak 2016, 2017, 2018, 2019, dan 2020, kecuali ditemukan data dan/atau informasi lain mengenai harta yang belum atau kurang diungkapkan dalam surat pemberitahuan pengungkapan harta.

Apakah hanya itu saja keuntungannya? Masih ada lagi keuntungannya (baik bagi yang ikut Kebijakan I atau Kebijakan II) yaitu data dan informasi yang bersumber dari surat pemberitahuan pengungkapan harta dan lampirannya yang diadministrasikan oleh Kementerian Keuangan atau pihak lain yang berkaitan dengan pelaksanaan Undang-Undang ini tidak dapat dijadikan sebagai dasar penyelidikan, penyidikan, dan/atau penuntutan pidana terhadap Wajib Pajak.

Dengan segala keuntungan tersebut, tentunya anda tidak ragu lagi untuk mengambil keputusan untuk mengikuti Program Pengungkapan Sukarela (PPS) ini.

Sumber: neraca.co.id

http://www.pengampunanpajak.com



Kategori:artikel

Tag:, , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: