Terangkat Amnesti dan Agenda Amerika

Hasil gambar untuk tax amnestyRupiah kembali perkasa menjelang akhir September lalu. Kurs dollar Amerika Serikat (AS) antar bank di pasar spot Jakarta, alias JISDOR, senilai Rp 12.926 per 28 September 2016 silam. Itulah angka terkuat rupiah terhadap dollar AS sejak 16 bulan terakhir.

Tonikum untuk rupiah datang dari dalam dan luar negeri. Hingga akhir September lalu, uang tebusan amnesti pajak yang mengalir masuk ke kas negara mencapai Rp 97,2 triliun.

Pencapaian itu tentulah membesarkan hati para pengelola fiskal di negeri ini. Angka itu sudah melampaui separuh dari total target perolehan uang tebusan program pengampunan pajak, yang baru selesai pada akhir Maret tahun depan, yaitu Rp 165 triliun.

Memang, tingginya pemasukan uang tebusan di periode pertama pengampunan pajak sudah diperkirakan sebelumnya. Penyebabnya, apalagi kalau bukan tarif. Periode pertama pengampunan pajak yang berlaku selama Juli hingga September lalu menawarkan kisaran tarif paling rendah, sekitar 2% hingga 4%.

Amnesti pajak tidak Cuma membentuk persepsi pasar mengenai amannya kondisi anggaran negeri ini. Pelaksanaan pengampunan pajak juga berdampak langsung terhadap rupiah karena program tersebut menawarkan opsi repatriasi bagi wajib pajak yang ingin mendapatkan amnesti.

Sepanjang tahap pertama pengampunan pajak kemarin, nilai harta yang dialihkan mencapai Rp 137 triliun. Jika dibanding dengan targe repatriasi dana yang dipasang pemeirntah, yaitu Rp 1.000 triliun, angka itu memang baru 10%.

Namun pencapaian yang rendah pun, dinilai Heriyanto Irawan, analis riset Deutsche Verdhana Indonesia sebagai sesuatu yang wajar. Alasan Heriyanto, turnover di pasar uang lokal pun tak gede-gede amat, Rp 100 triliun itu setara dengan nilai perdagangan uang di Jakarta selama dua pekan.

Nah, likuiditas ekstra yang datang dari pengampunan pajak tentu bakal menguatkan otot rupiah. “Amnesti pajak tahap pertama sudah mendorong penguatan rupiah,” tutur Farial Anwar, pengamat pasar uang.

Pengungkit rupiah dari luar negeri bersumber di kandang the greenback sendiri. Ada dua jadwal penting di AS yang saat ini kerap menyetir arah pasangan mata uang di dunia, tak terkecuali USD/IDR.

Pertama, rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Pertemuan salah satu komite Federal Reserve, otoritas moneter di AS, inilah yang menentukan naik-turunnya bunga di sana. Nah, tahun ini komite The Fed masih memiliki dua agenda pertemuan lagi. Masing-masing berlangsung pda 12 November dan 14 Desember mendatang.

Jika ada tanda-tanda The Fed akan mengetatkan kebijakan moneter di AS, bisa dipastikan rupiah bakal tertekan. Arah yang sebaliknya berlaku, jika The Fed tak mengubah kebijakannya, alias mempertahankan bunga tetap rendah.

Agenda kedua di AS yang turut menentukan nasib nilai tukar rupiah terhadap dollar AS  adalah rencana pemilihan presiden AS pada 8 November mendatang. Sekitar satu bulan menjelang hari pemungutan suara di Negeri Paman Sam, nilai tukar the greenback menjadi lebih mudah berubah arah.

Saat ini, kita sudah mahfum ada dua kontestan yang akan bertarung di pemilihan presiden mendatang. Mereka adalah Donald Trump yang merupakan calon dari Partai Republik dan Hillary Clinton yang mewakili Partai Demokrat.

Trump yang mengusung janji membuat Amerika kembali hebat menyodorkan sejumlah agenda perubahan perdagangan internasional. Untuk mencapai itu, Trump menjanjikan sederet program yang bakal mengubah kebijakan ekonomi Amerika. Tak heran, pasar terlihat enggan memegang dollar AS saat popularitas Trump naik daun.

Sedangkan  Clinton diposisikan pasar sebagai pewaris pemerintahan AS saat ini. Karena tak mengusung program yang bisa merombak arah politik AS, Clinton pun lebih mudah dibaca oleh pasar. Itu sebabnya, saat posisi Clinto menguat, dollar berada di atas angin.

Penurunan Bunga

Pertanyaan yang muncul kemudian apakah penguatan rupiah terhadap dollar AS akan membuat wajah makro ekonomi Indonesia tampak lebih cantik? Jawabannya bisa ya, mungkin juta tidak.

Rupiah yang menguat bisa berbuntut tak sedap apabila diikuti dengan belanja kenaikan impor konsumtif. Gawatnya, gejala peningkatan itu terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Nilai impor barang konsumsi sepanjang Januari 2016- Agustus 2016 meningkat 11,79% menjadi US$ 8,058 miliar.

Kenaikan nilai impor akan membuat neraca perdagangan kita lebih timpang lagi. Jangan lupa, dengan menguatnya rupiah berarti semakin mahal pula harga barang ekspor kita. Kemungkinan penurunan volume penjualan sangat mungkin terjadi. Yang sudah pasti bisa melorot adalah perhitungan nilai ekspor di catatan statistik. Jika dikonversi ke dalam rupiah, penjualan ekspor yang menggunakan denominasi dollar AS, pasti akan menghasilkan angka yang lebih kecil.

Efek tidak sedap yang lain dari penguatan rupiah terlihat di anggaran negara. Mengingat salah satu pos penerimaan anggaran negeri kita adalah bagi hasil minyak yang diukur dalam dollar AS. Jika rupiah harganya lebih mahal saat dibeli dengan dollar AS, tentu pos penerimaan dari pajak minyak dan gas akan lebih tipis.

Memang, ada juga sisi terang dari penguatan rupiah bagi anggaran. Biaya utang luar negeri yang harus ditanggung Indonesia menjadi makin mini. Namun, jika mengutip hitungan Badan Kebijakan Fiskal (BKF), penguatan rupiah lebih banayk mudaratnya bagi anggaran. Setiap kali nilai tukar dollar AS turun Rp 100, anggaran negara bisa defisit Rp 1 triliun.

Selain dampak buruk, tentu ada manfaat yang bisa dipetik dari penguatan rupiah. Yang paling mudah ditelusuri adalah dampak penguatan rupiah ke inflasi yang dipengaruhi oleh impor. Jika rupiah menguat, inflasi yang dipicu impor bakal terkendali. Jika inflasi terkendali, ujung-ujungnya kebijakan moneter bisa dilonggarkan.

Pertanda baik dari penguatan rupiah ini juga terlihat di bulan lalu. Inflasi bulanan Indonesia selama September sebesar 0,22%. Jika diukur dalam tahun kalender alias yearto date, inflasi di September sebesar 1,97%. Apabila kenaikan harga barang dan jasa diukur dari September tahun lalu, maka tercatat inflasi sebsar 3,07%.

Angka itu masih jauh dari inflasi year on year yang ditargetkan pemerintah di tahun ini yaitu 4%. Tak heran Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution pun berbesar hati. “Laju inflasi September 2016 masih sesuai harapan,” tutur dia.

Melihat laju inflasi yang masih jinak, harapan akan pelonggaran kebijakan moneter alias pemangkasan bunga pun kembali membuncah. Keinginan itu dipenuhi oleh Bank Indonesia. Dalam pertemuan yang berlangsung 22 September 2016 silam, BI memangkas bunga acuan, 7 days reverse repo rate sebesar 0,25% menjadi 5%.

Di era 7 days reverse repo rate menjadi bunga acuan, inilah pemangkasan pertama yang dilakukan BI. Namun dalam sepanjang tahun, ini merupakan penurunan bunga acuan keempat yang dilakukan BI. Saat bunga acuan masih menggunakan BI Rate, bank sentral sudah tiga kali melakukan pemangkasan. Penurunan bunga, yang biasanya diikuti dengan semakin cepatnya roda ekonomi berputar yang kita harapkan bersama-sama.

Penulis: Thomas H, Asep M.Z., Arsy A.S., Adinda A.M.

Sumber: Tabloid Kontan Edisi Oktober 2016

http://www.pengampunanpajak.com

info@pengampunanpajak.com

 

Iklan


Kategori:Pengampunan Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: