Harga Acuan Tak Mempan Kendalikan Harga Pangan

index

Pemerintah perlu mengevaluasi secara menyeluruh kebijakan harga acuan komoditas pangan

JAKARTA. Kebijakan harga acuan pangan yang diluncurkan pemerintah sekitar sebulan lalu ternyata tak mempan mengendalikan harga pangan di pasar. Hingga kini, harga kebutuhan pokok masih fluktuatif dan bertahan tinggi.

Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansyuri mengatakan, adanya harga acuan yang ditetapkan tidak berpengaruh dalam perdagangan kebutuhan pokok sehari-hari. Proyek percontohan yang diluncurkan pemerintah untuk menerapkan harga acuan pada komiditas gula di PD Pasar Jaya juga tidak berjalan. “Belum (terpengaruh harga), masih jauh dari harapan, “kata Abdullah, Minggu (9/10).

Abdullah bercerita, saat ini, pedagang masih menjual gula di kisaran harga Rp 14.000 per kilogram (kg) hingga Rp 15.000 per kg. Harga ini lebih tingggi dibandingkan dengan batas yang ditetapkan yakni Rp 12.500 per kg.

Mengutip data Kementerian Perdagangan (Kemdag), awal Oktober, harga daging sapi rata-rata nasional Rp 113.400 per kg. Beras medium Rp 10.650 per kg, gula pasir Rp14.540 per kg, dan bawang merah Rp 37.360 per kg.

Sebagai catatan, dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 63/2016 tentang Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen yang diteken oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita pada 9 September 2016 itu mengatur harga acuan tujuh komoditas pangan. Selain gula, komoditas lainnya yang diatur adalah harga beras, jagung, kedelai, bawang merah, cabai, dan harga daging sapi.

Skema penetapan harga yang dibuat oleh pemerintah dalam aturan itu dinilai tidak melibatkan petani, peternak, maupun pedagang. Sehingga penetapan harga acuan sulit diimplementasikan lantaran perhitungan yang digunakan untuk menentukan harga berbeda.

Perlu evaluasi

Menurut Abdullah, pemerintah mematok harga acuan itu berdasarkan atas perhitungan biaya produksi plus margin keuntungan yang wajar. Tapi, petani maupun peternak memandang ada aspek lain yang perlu diperhatikan pemerintah yakni terkait kelangsungan hasil produksi pada musim berikutnya.

Abdullah menilai, pemerintah perlu meninjau kebijakan harga acuan yang telah ditetapkan itu, mumpung, beleid ini masih dalam masa percobaan dan belum diimplementasikan seluruhnya. “Ikappi meminta Menteri (Perdagangan) melakukan evaluasi dan lebih melibatkan semua pihak yang terkait, “kata Abdullah.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita meminta para petani tidak khawatir dalam menanam komoditas pangan, salah satunya jagung. Sebab jagung merupakan salah satu dari tujuh komoditas yang dijamin harganya oleh pemerintah. “Jika harga lebih rendah dari harga batas bawah, jagung akan diserap oleh Bulog, “ujarnya.

Sumber : http://www.pemeriksaanpajak.com

http://www.pengampunanpajak.com

info@pengampunanpajak.com

Iklan


Kategori:pemeriksaan pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: