Jokowi Kebut Infrastruktur Andalkan Tax Amnesty

e9719-ta_2016_02

Jakarta, Presiden Joko Widodo pernah menyindir para pengusaha yang hobi simpan duit di luar negeri. Modus menghindari pajak di Indonesia. Padahal negara butuh duit untuk membangun.

Ya, benar. Saat ini, pemerintah sangat butuh pemasukan, sebab brangkas negara selalu jebol oleh defisit. Lantaran, biaya belanja negara lebih besar ketimbang penerimaan. Kejadian ini terjadi sepanjang tahun.

Apalagi Presiden Jokowi sangat concern terhadap pembangunan infrastruktur di tanah air. Dengan membaiknya infrastruktur diharapkan bisa mendorong tumbuhnya perekonomian nasional.

Kembali ke soal penerimaan negara, ibaratnya, begitu ada uang masuk dari pajak atau penerimaan lainnya, dipastikan akan langsung habis untuk membayar kontraktor proyek-proyek infrastruktur.

Nah, bila penerimaan pajak jeblok terus, mau tak mau pemerintah mengandalkan utang luar negeri untuk menambal defisit anggaran. Kalau tak dapat utang, anggaran negara benar-benar terancam. Bisa-bisa anggaran rutin tak terbayar tepat waktu.

Per Juni 2016 misalnya, realisasi belanja negara sudah mencapai Rp 865,4 triliun, sementara realisasi penerimaan negara baru sebesar Rp 634,7 triliun. Terjadi defisit sebesar Rp 230,7 triliun.

Untuk menutup defisit tersebut, selama semester I 2016, pemerintah menambah utang baru sebanyak Rp 197,61 triliun. Sisa defisit ditutup dari utang yang diambil pada tahun sebelumnya. Jadi, jika tak ada uang dari utang, kas pemerintah saat ini benar-benar kosong.

Para analis dan akademisi menilai, Presiden Jokowi terlalu ambisius membangun infrastruktur, padahal uangnya tak cukup. Dampaknya, pemerintah harus berutang lebih banyak dan memangkas pos-pos anggaran lain agar tersedia dana yang cukup untuk membangun infrastruktur.

Dalam dua tahun masa pemerintahan Presiden Jokowi, anggaran infrastruktur memang dinaikkan “gila-gilaan”. Pada tahun 2015, anggaran infrastruktur mencapai Rp 290 triliun. Sedangkan pada 2016, angkanya ditinggikan lagi menjadi Rp 313 triliun. Bandingkan dengan era SBY, anggaran infrastruktur rata-rata hanya Rp 150 triliun per tahun.

Indonesia memang sangat membutuhkan infrastruktur untuk mengurangi biaya logistik, mengurangi kesenjangan antar-daerah, menciptakan kantong-kantong ekonomi baru, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi serta kemajuan pembangunan..

Namun Litbang Kompas mengingatkan, terlalu ambisius membangun infrastruktur dengan mengorbankan kepentingan masyarakat jangka pendek juga tidak elok.

Untuk mengatasi kesulitan pendanaan, Jokowi mendorong kalangan bisnis mengikuti tax amnesty. Apalagi banyak pengusaha memarkir uangnya di luar negeri, suatu bukti bahwa mereka tidak percaya kepada pemerintahnya sendiri.

Menurut Jokowi, hal itu tidak adil. Sebab, para pengusaha itu sudah mendapatkan banyak keuntungan di Indonesia. Presiden Joko Widodo mengajak para pengusaha untuk memanfaatkan kebijakan tax amnesty atau pengampunan pajak yang telah ditetapkan pemerintah.

Menurutnya, kebijakan tersebut akan menjadi sebuah momentum untuk mengembalikan uang pengusaha Indonesia yang diendap di luar negeri. Jokowi pun mengklaim memiliki data para pengusaha yang menyimpan uangnya di luar negeri.

Dalam kondisi penurunan ekonomi dunia saat ini, Indonesia sangat membutuhkan partisipasi dari warganya, khususnya dari para pengusaha tajir.

Maka program Tax Amnesty atau kalau di-Indonesiakan menjadi amnesti pajak periode II, membutuhkan partisipasi dunia usaha dan para saudagar agar mencapai hasil yang optimal.

Kini, publik tingga menanti aksi nyata kalangan pengusaha UMKM untuk mengikuti pengampunan pajak. Tentu saja penantian ini berbaur dengan harapan, plus kecemasan.

Sumber: INILAH

http://www.pengampunanpajak.com

info@pengampunanpajak.com

Iklan


Kategori:Pengampunan Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: